Pakdhe yang sudah pensiun, tapi tetap sabar mendidik, membina dan membimbing para juniornya jadi intelijen yang handal dan dapat diandalkan negara! Apresiasi pada beliau! Anak-anak muda harus contoh beliau!
Khutbah Jumat
M
Mahmud Syaltout
8 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّي...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin sidang Jumat yang berbahagia,
Mari sejenak kita hadirkan rasa syukur kepada Allah Subhanu wa Ta'ala. Betapa banyak nikmat yang Dia limpahkan. Coba lihatlah diri kita, apakah ada yang kurang dari pakaian di badan, makanan di perut, atau rumah tempat kita bernaung? Kalaupun ada, percayalah, itu semua bagian dari skenario terindah-Nya. Saking terindahnya, kadang bikin kita gemas, kan? Seperti hubungan sama doi, kadang bikin sakit hati, tapi kalau sudah dipikir-pikir, ya.. namanya juga hidup.
Nah, bicara soal hidup, ada satu sosok yang ingin saya hadirkan di lubuk hati kita hari ini. Sosok yang, kalau kata anak zaman sekarang, "legend". Dia ini sudah pensiun, Pak, Bu. Sudah saatnya nyantai, menikmati hasil jerih payah. Sudah saatnya mejeng di teras sambil minum kopi pakai celana pendek, nonton sinetron sambil sesekali nyeletuk, "Ah, zaman saya dulu lebih seru!" Tapi, ternyata, pensiunnya beliau ini bukan berarti berhenti berkarya. Bukan pula berarti menghabiskan sisa usia dengan berguling-guling di kasur sambil mendengkur.
Justru, di masa pensiun inilah, beliau sang "Pakdhe" menunjukkan ketulusannya yang luar biasa. Beliau tidak pernah merasa tua untuk berbagi ilmu. Beliau sabar, sangat sabar, mendidik, membina, dan membimbing para juniornya yang masih "hijau" di dunia intelijen. Intelijen, Saudara-saudara! Bukan intel-intilan lho ya. Ini loh, pasukan negara yang harus sigap, waspada, dan punya mata setajam elang, tapi hati selembut sutra.
Bayangkan saja, Pakdhe ini, dengan pengalaman segudang, rambut mungkin sudah memutih, tapi semangatnya masih membara! Beliau harus menghadapi anak-anak muda yang kadang bikin gemas. Yang kalau dikasih instruksi, matanya melirik ke kanan, ke kiri, seolah mencari sinyal Wi-Fi gratis. Yang kalau diberi tugas, kadang jawabnya, "Siap, Pakdhe! Tapi offline dulu ya, sinyalnya jelek."
Tapi lihatlah ketabahan beliau! Beliau tidak pernah mengeluh. Dengan senyum khasnya yang penuh kebijaksanaan – yang mungkin sedikit berkerut di sela-sela kerutan wajahnya – beliau tetap sabar menjelaskan. Beliau sabar mengingatkan, "Nak, kalau mencari informasi itu jangan cuma modal kuota. Harus pakai kepala dingin, hati yang jernih, dan mata yang jeli." Beliau sabar mengajarkan taktik-taktik jitu, strategi cerdas, yang mungkin beliau pelajari saat masih dinas dulu. Itu, loh, yang seperti di film-film action, tapi versi *real life*.
Firman Allah mengingatkan kita:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'" (QS. Al-Isra: 24)
Ayat ini sering kita kaitkan dengan orang tua kita. Namun, mari kita perluas maknanya. Bukankah para guru, para mentor, para panutan kita, juga telah mendidik kita? Bukankah Pakdhe kita ini, dengan dedikasi tanpa pamrihnya, telah "mendidik" generasi penerus intelijen negara dengan penuh cinta dan tanggung jawab? Beliau telah menanamkan nilai-nilai luhur, kejujuran, integritas, dan kecintaan pada tanah air.
Ma'asyiral Muslimin,
Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada beliau. Beliau adalah contoh nyata dari khidmah yang tulus. Pensiun bukan berarti padamnya semangat pengabdian. Malah, justru di situlah kesempatan emas untuk mentransfer ilmu, memberikan bekal kepada generasi penerus, agar mereka menjadi agen-agen bangsa yang handal, yang selalu siap sedia menjaga keamanan negara ini.
Anak-anak muda yang dirahmati Allah, kalian yang masih memiliki energi, semangat membara, dan mungkin kecepatan berpikir yang mengalahkan *loading* internet di saat-saat darurat, jadikanlah Pakdhe kita ini sebagai inspirasi. Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknologi, tapi jangan lupakan akar keilmuan dan kebijaksanaan para pendahulu. Belajarlah dari pengalaman mereka. Ingatlah, secanggih apapun alat, tanpa sentuhan tangan ahli yang bijak, semuanya akan sia-sia.
Bayangkan saja, kalau Pakdhe ini tidak sabar mengajari juniornya, bagaimana nasib negara ini di masa depan? Mungkin anak-anak muda kita nanti akan sibuk mencari 'password' gedung kementerian, atau salah alamat saat melakukan pengintaian. Nauzubillahi min dzalik!
Maka dari itu, mari kita renungkan. Betapa berharganya ketekunan, kesabaran, dan ketulusan dalam berbagi ilmu, terutama kepada generasi penerus. Ini bukan sekadar pekerjaan, ini adalah ibadah. Ini adalah investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, terutama para pemuda sekalian. Mari kita teladani semangat Pakdhe kita. Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kita tahu. Selalu ada ruang untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memberi. Di dalam diri kita, tersimpan potensi luar biasa yang Allah titipkan. Mari kita asah, kita poles, dan kita salurkan untuk kebaikan umat dan bangsa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.